What do Ordinal Inscriptions Mean for the Future of Bitcoin?

What do Ordinal Inscriptions Mean for the Future of Bitcoin?

A great deal of buzz has been generated by a novel type of non-fungible tokens known as Ordinal inscriptions. What sets these NFTs apart is that all of their data is etched onto the Bitcoin blockchain, diverging from Ethereum NFTs which are reliant on off-chain metadata that can be altered. Here’s a closer look at Ordinal inscriptions and their potential impact on the future of Bitcoin.

Ordinal inscriptions are a type of NFT that can be created on the Bitcoin blockchain, which allows for all of the data to be directly inscribed on the chain. This is in contrast to Ethereum NFTs, which rely on off-chain metadata. Due to this distinction, Ordinals are considered a potential solution to the challenges that are associated with Ethereum NFTs.

Ordinal inscriptions serve as a means of organizing data on the Bitcoin blockchain. The Bitcoin blockchain functions as a decentralized ledger of all Bitcoin transactions, and Ordinal inscriptions provide a unique identifier for each transaction.

While these identifiers are useful for tracking and verifying transactions, there are concerns about the potential for issues, such as “transaction malleability,” to arise as a result of Ordinal inscriptions. Some experts have raised concerns in this regard.

The term transaction malleability refers to the ability of a third party to modify a transaction ID without altering the transaction itself. This can result in confusion and make it more challenging to track and verify transactions.

The concern with Ordinal inscriptions is that if they are not used correctly, they may lead to an environment in which transaction malleability is more prevalent. This could have the effect of making it harder to rely on Bitcoin as a secure and dependable method of payment and transfer.

Fortunately, many experts in the crypto community are aware of the potential risks associated with Ordinal inscriptions and are taking steps to mitigate them. One of the most significant efforts in this regard is the implementation of Segregated Witness (SegWit).

SegWit is a software upgrade that allows for more efficient use of the Bitcoin blockchain by separating signature data from transaction data. This helps to decrease the size of transactions and reduces their susceptibility to malleability.

Beyond SegWit, ongoing efforts are being made to develop other solutions to address the potential risks associated with Ordinal inscriptions. The Lightning Network is one such solution, as it is a layer of two solutions that enables faster and less expensive Bitcoin transactions by conducting them off-chain.

Should you be concerned? If you are a casual Bitcoin user, you likely do not need to be overly concerned about Ordinal inscriptions. The potential risks associated with them primarily affect those involved in more complex Bitcoin transactions, such as multi-signature wallets or smart contracts.

Despite the potential benefits of Ordinal inscriptions, there has been a lot of debate over whether they are a “good use” of block space. As more Ordinals are being inscribed, the cost of Bitcoin transactions has risen. Ordinals introduce additional, non-financial data on the Bitcoin blockchain, which can bog down on-chain confirmation times. This includes images, audio clips, and even games. Those not in favour of Ordinals see this as an impediment to the ability of Bitcoin to scale and reach full global adoption.

Inscribing non-fungible characteristics to satoshis, the individual increments of Bitcoin, may challenge its use in place of conventional currency. Ordinals challenge the fungibility of satoshis on the Bitcoin network, as all satoshis should be equal, or they begin to lose a significant trait of money. But Ordinals can alter the value of these units of money, much like rare collectible coins. This debate over whether these individual units must be deemed equal is unfolding before our eyes and needs to be understood.

Bitcoin is money, and that’s the largest and most important use case, impacting the most people in the world. In the end, I believe that Ordinals will remain niche. While Ordinals may be viewed as exciting, they are unlikely to become the go-to choice for many people who use Bitcoin’s block space.

Ultimately, the markets decide. One of the biggest yet baseless claims is that Bitcoin doesn’t evolve or change. While there may be some truth to this, any changes to the protocol should be slow and methodological. Ultimately, the markets will decide whether Ordinal inscriptions are a viable solution for the challenges associated with Ethereum NFTs.

One key factor to remember about Bitcoin, and any other digital asset, is that its success depends on market demand. If the market values the features offered by Ordinal inscriptions, then they are likely to be adopted and integrated into the Bitcoin network. However, if the market does not value them, then they will remain a niche offering.

While Ordinal inscriptions may pose some potential risks to the Bitcoin network, the crypto community is actively working to address these issues. As long as you take appropriate precautions to protect your Bitcoin holdings, there’s no need to be overly concerned about this discussion in the short term. In fact, these discussions help to strengthen and test the resilience of the Bitcoin network. I see lots of positivity in this.

 

Source: https://intpolicydigest.org/what-do-ordinal-inscriptions-mean-for-the-future-of-bitcoin/

j j j

Apa itu Wash Trading dan Cara Hindari Agar Tak Jadi Korban Harga Semu

Apa itu Wash Trading dan Cara Hindari Agar Tak Jadi Korban Harga Semu

Pembentukan harga baik di pasar cryptocurrency, saham, maupun non-fungible token (NFT) terjadi karena adanya permintaan dan penawaran. Namun, ketika penawaran beli dan jual muncul dari pihak yang sama dengan tujuan untuk menyesatkan pasar, itulah namanya wash trading.

Sejauh ini, di pasar saham, praktik manipulasi harga dan volume perdagangan dilarang. Akan tetapi, di ranah cryptocurrency, masih belum ada aturan yang mewadahi kondisi ini. Makanya, pelaku crypto atau pemula dapat terjebak dalam harga semu bila terjadi proses trading yang dibuat-buat ini.

Artikel ini akan membahas tentang wash trading, bagaimana cara kerjanya dalam pasar crypto serta bagaimana menghindari jadi korbannya.

Ingin mendapatkan tips menarik terkait trading cryptocurrency terbaru? Bergabunglah dengan Komunitas Trading BeInCrypto di Telegram: baca ulasan dan tips trading crypto, tanyakan dan dapatkan jawaban atas semua pertanyaan kamu dari trader PRO. Gabung sekarang!

Apa Itu Wash Trading?

Wash trading adalah penjualan aset oleh seorang trader, yang kemudian hampir bersamaan dengan pembelian kembali aset itu oleh trader yang sama untuk membuat persepsi harga dan likuiditas. Praktik ini bisa menjadi sebuah bentuk manipulasi pasar, baik di pasar sahamcryptocurrency maupun NFT. Sebab, seorang investor bisa membeli sebuah aset dan dengan segera menjualnya agar mempengaruhi harga pasar atau likuiditas dari aset tersebut.

Ada sejumlah motivasi bagi seorang trader atau pihak yang berkolusi untuk melakukan wash trading. Tujuan utamanya mungkin untuk mendorong pembelian agar harga meningkat. Atau sebaliknya, trader itu justru menjual agar harga aset turun.

Motivasi lainnya mungkin melibatkan trader yang berupaya untuk membuat kerugian modal dalam upaya mencari pengembalian pajak. Caranya, adalah dengan menjual aset dalam dan membelinya kembali di harga yang lebih rendah.

Meskipun praktik ini bisa melibatkan beberapa trader, sejumlah perusahaan berbeda dan akun yang berbeda, motivasinya sama. Maksud dari wash trading adalah untuk menyesatkan, membuat persepsi dari harga dan volume dari sebuah aset keuangan atau yang menjadi obyek perdagangan.

Cara Kerja Wash Trading

Pada dasarnya, wash trading adalah investor membeli dan menjual sebuah aset pada saat yang sama. Namun, dalam praktik manipulasi pasar tingkat tinggi, yang terlibat adalah maksud dan tujuan sang investor tersebut.

Makanya, ada dua kondisi yang menentukan terjadinya wash trading:

1. Niat

Kondisi pertama adalah niat atau intensi. Wash trader pasti memiliki strategi khusus untuk membeli dan menjual aset yang sama sebelumnya. Sekali lagi, wash trading dilakukan sebagai upaya untuk menyesatkan alias manipulasi pasar. Akibatnya, banyak akun terlibat untuk mencoba melakukan misrepresentasi.

Trader perorangan, atau perusahaan, akan melakukan transaksi pada aset yang sama. Namun, mereka akan menggunakan akun yang berbeda untuk menghasilkan perubahan harga atau peningkatan volume perdagangan. Satu akun akan menjual aset ke akun yang lain tetapi sebenarnya akun-akun tersebut adalah satu pihak yang sama.

2. Hasil

Hasil dari transaksi tersebut harus berupa wash trade, yaitu investor telah membeli dan menjual aset yang sama pada waktu yang sama, dengan menggunakan rekening yang memiliki kepemilikan yang sama atau bersama.

Salah satu cara untuk menentukan apakah wash trading sedang terjadi adalah dengan memeriksa posisi keuangan investor. Jika trading tidak mengubah keseluruhan posisi investor, atau memaparkan mereka pada segala jenis risiko pasar, maka itu dapat menjadi sebuah “pencucian”.

Wash Trading di Pasar Cryptocurrency

Meski awalnya terjadi di pasar saham, dalam beberapa tahun terakhir, wash trading juga terlihat di pasar cryptocurrency. Ada upaya yang jelas dari banyak proyek kripto untuk memberikan kesan popularitas dan volume perdagangan yang tinggi.

Praktik ini tidak terbatas pada koin berkapitalisasi rendah dan telah memengaruhi bahkan mata uang kripto paling populer seperti Bitcoin. Ada beberapa alasan mengapa wash trading ada di ruang crypto:

  • Mata uang utama seperti Bitcoin tidak memiliki metode yang diterima secara universal untuk perhitungan volume perdagangan harian. Akibatnya, cryptocurrency exchange sering menghasilkan angka yang berbeda untuk volume perdagangan historis.
  • Banyak crypto exchange tidak memiliki legitimasi, yang terbukti dengan runtuhnya sejumlah nama besar dalam beberapa tahun terakhir.
  • Ada juga volatilitas ekstrem di ruang cryptocurrency yang mendorong pembelian dan penjualan cepat.

Contoh Wash Trading

Misalnya, investor mayoritas dalam proyek token crypto XYZ mungkin membeli lebih banyak token XYZ dari proyek itu menggunakan banyak alamat. Setelah mereka memperoleh XYZ tambahan, mereka akan mentransfer jumlah XYZ yang sama ke bursa. Pada saat itu, mereka akan mengubah XYZ menjadi Ether (ETH) dan menggunakan ETH tersebut untuk membeli lebih banyak XYZ. Perilaku ini akan berlanjut selama beberapa waktu, menggunakan banyak alamat sebagai upaya untuk menyamarkan maksud mereka.

Investor luar akan melihat peningkatan minat dan volume di XYZ, kemudian memutuskan untuk membeli token tersebut dalam jangka panjang. Minat tambahan dari investor luar dengan maksud jangka panjang ini meningkatkan harga XYZ. Kemudian, orang dalam tersebut akan menjual sejumlah aset crypto XYZ mereka untuk mendapatkan keuntungan.

Intinya, investor besar XYZ menggunakan wash trading untuk menyesatkan orang lain tentang minat spekulatif dalam proyek tersebut. Sehingga, mereka pada akhirnya dapat membuang kepemilikan mereka untuk mendapatkan keuntungan. Praktik ini mirip seperti pump and dump yang juga terkenal di dunia trading crypto.

Perbedaan Wash Trading vs. Market Making

Di permukaan, wash trading dan market making mungkin tampak seperti hal yang sama. Akan tetapi, kedua hal ini berbeda dari segi intensi.

Market making adalah membeli dan menjual aset dalam jumlah yang sama pada waktu yang sama, tetapi mungkin di lokasi yang berbeda. Misalnya, market maker Bitcoin akan menyediakan bagi trader untuk membeli di satu bursa seharga $49.300. Kemudian, ketika seorang investor memutuskan untuk membeli 0,01 Bitcoin dari market maker, si market maker akan akan berbalik dan dengan cepat membeli 0,01 Bitcoin seharga $49.200 di bursa lain. Nah, market maker akan mendapat untung dari selisih dan perbedaan harga untuk Bitcoin.

Perbedaan utama antara market making dan wash trading adalah niat. Market maker menyediakan aset untuk dibeli dan dijual oleh investor lain. Oleh karena itu, ada investor lain yang terlibat dalam transaksi market makingMarket maker membiarkan aset crypto mereka tersedia untuk dibeli orang lain (yang tidak mereka kenal).

Wash trading, di sisi lain, adalah ketika satu-satunya “pihak” dalam transaksi adalah akun dengan kepemilikan bersama yang berupaya melakukan manipulasi pasar. Trader dengan intensi ini akan menggunakan akun bersama untuk menjadi “beberapa pihak” dalam perdagangan. Dengan cara ini, wash trader secara efektif berdagang dengan diri mereka sendiri — dan tidak dengan orang lain. Akibatnya, tidak ada manfaat langsung selain menyesatkan orang lain tentang harga atau volume aset keuangan.

Wash Trading NFT

Dalam pasar non-fungible token (NFT), wash trading sangat mungkin terjadi. Sebab, dengan sifatnya yang unik, sang kreator NFT tentu ingin hasil karyanya melejit. Makanya, kreator ingin harga NFT miliknya naik tinggi sehingga mendapat profit ketika menjualnya. Dengan praktik wash trading, kreator NFT tidak hanya dapat menaikkan harga tetapi juga meningkatkan volume perdagangan.

Akibatnya, orang lain yang melihat aktivitas terkait aset NFT tersebut dapat mempertimbangkan untuk membelinya di harga tinggi. Nah, ketika NFT terjual ke orang lain, sang kreator bisa menikmati selisih harganya.

Menurut laporan Dune, nyaris 60% perdagangan non-fungible token (NFT) tahun 2022 terjadi dengan melibatkan praktik wash trading. Pada banyak kasus, para pengguna membuat banyak akun di marketplace NFT terkait lalu memanfaatkannya untuk melancarkan aktivitas beli dan jual kolektibel yang sama.

Dengan menunjukkan eksistensi NFT atau koleksi tersebut, scammer kemudian bisa menjualnya ke pihak ketiga. Kemudian, mereka bisa memanen profit yang jauh lebih tinggi daripada jumlah yang terpakai untuk biaya transaksi untuk memanipulasi harga.

Apakah Wash Trading Ilegal?

Menurut aturan Bursa Komoditas AS, wash trading adalah ilegal. Sebab, ini merupakan upaya untuk memanipulasi pasar dan harga saham. Di AS, Komisi Perdagangan Komoditas Berjangka (CFTC) juga mendorong regulasi terkait wash trading. Ini termasuk pedoman yang melarang broker untuk meraih keuntungan dari hasil aktivitas tersebut.

Akan tetapi, di dunia crypto belum ada regulasi terkait praktik ini. Di AS, Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) mulai memantau pasar cryptocurrency. Namun, NFT tidak termasuk dalam sekuritas, karena sifatnya yang non-fungible dan di luar kewenangan dari SEC.

Oleh karena itu, dengan belum adanya regulasi terkait ini di ranah cryptocurrency, masih ada risiko wash trading untuk ast kripto. Akibatnya, ini berujung pada manipulasi harga dan volume dari cryptocurrency.

Bagaimana Cara Mendeteksi Wash Trading?

Menurut Anndy Lian dari Forkast, ada beberapa logika bagi calon pembeli untuk menganalisis bagaimana sebuah NFT jadi obyek wash trading.

  • Sebuah NFT diperdagangkan oleh satu alamat lebih dari beberapa kali dalam sehari. Sementara koleksi lainnya dari kreator yang sama tidak bergerak.
  • Alamat-alamat yang melakukan trading NFT tersebut menggunakan cara cepat dengan frekuensi tinggi.
  • Koleksi NFT tiba-tiba mengalami peningkatan frekuensi perdagangan tanpa adanya marketing atau promosi.
  • Rata-rata harga historis dalam transaksi sebuah NFT jauh lebih tinggi di marketplace A vs B.
  • Harga penjualan dari sebuah NFT jauh lebih tinggi daripada NFT yang tersedia dalam koleksi sama.
  • Alamat wallet yang sama mendanai semua pembelian dan penjualan NFT tersebut.
  • Volume trading yang sangat tinggi secara konstan

Meskipun demikian, asumsi-asumsi itu tidak semuanya sempurna. Yang terpenting adalah bagaimana bisa melacak beberapa wallet yang sebenarnya saling berkaitan atau dari pihak yang sama.

Cara Menghindari Jadi Korban Wash Trading

Wash trading lebih umum terjadi di pasar yang lebih kecil dan baru daripada di pasar yang lebih besar dan lebih mapan. Ini karena pasar yang lebih kecil lebih mudah jadi obyek manipulasi.

Whale (investor crypto besar) dapat dengan mudah menggerakkan harga cryptocurrency yang punya market cap kecil. Sebab, ukuran modal mereka mungkin setara dengan nilai seluruh market cap crypto itu sendiri.

Selain itu, koin yang baru meluncur ke pasar tidak akan memiliki riwayat harga atau volume apa pun. Oleh karena itu, pengembang atau orang dalam lainnya mungkin terlibat dalam praktik manipulasi harga untuk menyesatkan trader tentang nilai sebenarnya dari koin tersebut.

Begitu pula dengan NFT, yang seringnya tidak memiliki volume atau minat dalam perdagangannya. Oleh karena itu, pemilik NFT dapat dengan mudah terlibat dalam wash trading untuk memikat pembeli yang tidak curiga agar membeli NFT dengan harga tinggi.

Maka, cara terbaik menghindari jadi korban wash trading adalah:

  • Hindari penerbitan proyek baru, crypto dengan market cap kecil, dan proyek NFT baru. Sebab, proyek-proyek baru belum mendapatkan volume cukup untuk perdagangan. Makanya para investor awal menggunakan teknik wash trading untuk mendongkrak harga dan volume.
  • Pilih cryptocurrency yang lebih mapan dengan volume lebih besar. Semakin besar pasar, semakin besar juga dana dan pemain yang terlibat untuk memanipulasi pasar. Sehingga risiko wash trading pun semakin kecil.
  • Cari aset crypto dengan rekam jejak perdagangan yang mapan. Dengan begitu, kamu dapat membandingkan volume transaksi sekarang dengan riwayat crypto tersebut. Perbandingan ini akan menunjukkan apakah jumlah volume yang ekstrim telah memasuki pasar, yang mungkin menyesatkan pelaku pasar.
  • Setiap pedagang atau investor yang baik akan memiliki rencana dan strategi untuk perdagangan mereka. Memiliki proses dan metode berulang untuk masuk ke dalam perdagangan dan posisi — plus proses untuk keluar dari perdagangan — dapat membawa konsistensi dalam perdagangan. Dalam rencana perdagangan, pastikan juga untuk mempertimbangkan usia dan ukuran kapitalisasi pasar mata uang kripto.

Kesimpulan

Secara umum, wash trading adalah aktivitas yang ilegal yang melibatkan pembelian dan penjualan saham oleh pihak yang sama di pasar saham. Namun, di pasar cryptocurrency belum ada regulasi yang melarang praktik ini. Apalagi, dalam trading NFT tidak ada aturannya, karena NFT dianggap sebagai aset properti yang unik.

Untuk menghindari terjebak dalam pusaran harga tinggi akibat wash trading, baik di pasar crypto maupun NFT, investor perlu lebih teliti. Pilih aset yang sudah mapan dan hindari proyek baru dengan volume masih rendah. Selalu terapkan DYOR (Do Your Own Research) sebelum memutuskan untuk membeli aset.

 

Source: https://id.beincrypto.com/belajar/wash-trading-crypto-nft/

 

j j j

What Is Web4 And Where Are The Opportunities?

What Is Web4 And Where Are The Opportunities?

Ideal decentralization refers to a system or network in which no single entity has control or the ability to make decisions for the entire system. Instead, power and decision-making are distributed among multiple participants, making it more difficult for any one person or group to manipulate or control the system. This ideal state could be Web4.

Web4 is not a widely used term and it’s not a consensus definition, so it may refer to different things depending on the context. However, some people use the term “Web4” to refer to the next generation of the World Wide Web, which would be even more decentralized and more focused on artificial intelligence, semantic web, and the internet of things, among other things. It would be characterized by more dynamic, autonomous, and interconnected systems that can learn from data, communicate with each other and adapt to changing environments. This would allow for more dynamic and adaptable systems that can learn from data and improve over time.

However, it’s important to note that Web4 is not an official term and it’s not a widely accepted concept in the industry, so the extent to which it would be more decentralized than the current web (Web3) or previous versions of the web would depend on how it is defined.

New Decentralization

The idea behind Web4 is to create a more decentralized and autonomous web that allows for more direct interactions between users and devices without the need for intermediaries. This could include the use of decentralized technologies, such as blockchain, peer-to-peer networks, and distributed systems, to enable new forms of online interactions and services that are not controlled by centralized entities. Additionally, Web4 could also have a greater focus on AI and machine learning, which would allow for more dynamic and adaptable systems that can learn from data and improve over time.

Web4 is seen as the next evolution of the World Wide Web, building upon the decentralized technologies of Web3. In Web4, the user experience is streamlined and frictionless, with the underlying technical details abstracted away. This means that users won’t need to worry about the specific blockchain being used, the intricacies of ZK-Rollups, or setting the right gas limit for transactions. The gas wars and transaction fees of the current web3 will be a thing of the past.

Moreover, Web4 has the potential to create a circular crypto-economy that transcends physical and digital boundaries, making the need for fiat on and off ramps obsolete. This would be a significant disruption in the current financial system.

There are other interpretations of what Web4 could be, such as the “symbiotic web,” which refers to a symbiotic relationship between humans and machines, possibly even utilizing direct brain-machine interfaces.

Overall, the transition from Web1 to Web2, and now from Web3 to Web4, is similar in that it is a gradual process that opens new doors and invites more people to participate. While Web3 is still in its early stages and considered experimental, Web4 is expected to be more accessible and user-friendly, making it more widely adopted by the general public.

Where Are The Opportunities?

Web 4.0 offers a wealth of possibilities for companies and individuals. The symbiotic web will enable the creation of more personalized experiences, allowing businesses to better understand their customers and provide tailored content.

AI-powered automation will improve efficiency, speed up time to market and lower costs, giving businesses a competitive edge and better customer service.

The combination of hardware, software and data will enable the development of new products and services, such as connected devices that interact with users and gather data for personalization.

Web 4.0 also opens up new revenue streams, like targeted advertising or subscription services, using data collected.

Additionally, VR and AR applications will allow for new ways for businesses to engage with customers, for example, creating an AR application that allows customers to interact with products in a 3D space.

In Summary, What Do We See In Web4?

1) Industry 4.0 full automation

2) Decentralized sustainable metaverse + AR + VR

3) AI making steps into the decentralized realm

4) Real decentralized app and economies

5) Real power back to the users

Web5 And Jack

In 2022, Jack Dorsey, the former CEO of Twitter, emerged as a leading figure in the development of Web5. He shared his vision for the next generation of the internet at the Consensus crypto and blockchain conference. Dorsey’s team at TBD, the Bitcoin-focused division of his fintech company Block (formerly known as Square), supports him in this endeavour.

According to Dorsey, Web5 is a solution to the issues he has with Web3, particularly his belief that it will never fully achieve decentralization.

“You don’t own ‘Web3.’ The [venture capitalists] and their [limited partners] do,” Dorsey said in a tweet, referring to the billions being poured into Web3. “It will never escape their incentives. It’s ultimately a centralized entity with a different label.”

“Know what you’re getting into,” he warned.

Ending Note:

Yes, it’s important to note that true decentralization is a core principle of a decentralized economy. This means that there is no central authority or intermediary controlling or managing the network or its transactions. Instead, power and control is distributed among the network’s participants, and decisions are made through consensus mechanisms such as voting or proof of work. Decentralization ensures that the network is resistant to censorship, fraud, and other malicious activities and that the network’s users have full control over their own assets.

Perhaps, Web4 is a chance for us to redefine decentralization, reform and improve decentralization, and revalue the true meaning behind decentralisation.

 

Source: https://www.benzinga.com/23/02/30946353/what-is-web4-and-where-are-the-opportunities

j j j